Entrepreneurship

Pembicara: Goris Mustaqim

Pendirian Yayasan Asgar (Asli Garut) dengan logo domba Garut bertujuan untuk mengangkat nilai lokal untuk menuju internasional.

Fokus yayasan ini adalah:

  1. Pendidikan: program yang telah dilakukan misalnya memberikan bimbel secara gratis kepada siswa kelas 3 SMA dalam rangka persiapan masuk perguruan tinggi negeri, harapannya dengan tingginya tingkat kemiskinan dapat mengangkat kehidupan ekonomi keluarga setelah lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak kelak. Selain itu terdapat juga pengadaan fasilitas belajar seperti perpustakaan dan internet.
  2. Kewirausahaan: yayasan ini berperan dalam membantu mempertemukan antara investor dengan pelaku usaha serta memberikan bantuan fasilitas dagang lainnya.
  3. Community development: seperti pembentukan lembaga keuangan mikro dengan mengadopsi Grameen’s Business Model; gerakan investasi pohon (menanam pohon) dengan pembagian hasil 60:40 antara petani dan yayasan.

Dari beberapa bidang tersebut menurut hemat saya (dank arena background saya adalah bidang ekonomi), pembentukan keuangan mikro memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan disemua wilayah Indonesia, mengingat mayoritas penduduk pedesaan di Indonesia belum dapat mengakses perbankan dan masih sedikit lembaga keuangan maupun perbankan yang mengadopsi sistem ini. Disisi lain mereka juga membutuhkan pembiayaan untuk melakukan dan mengembangkan usaha masing-masing. Konsep Grameen’s Bank yang dikembangkan oleh Muhammad Yunus di Bangladesh dapat dikembangkan di Indonesia karena tujuan utamanya bukanlah profit melainkan untuk menurunkan tingkat kemiskinan. Disamping itu dengan tanggung jawab renteng yang pada saat pemberian kredit dapat mendidik SDM Indonesia untuk bertanggung jawab dan jujur, karena apabila dalam suatu kelompok terdapat seorang anggota yang gagal membayar, maka seluruh anggota kelompok tersebut harus memikul akibatnya (untuk membayar dan diberikan kredibilitas buruk bahkan tidak akan diberikan kredit lagi). Sistem ini juga sesuai dengan nilai bangsa Indonesia yaitu gotong royong.

Yang perlu menjadi catatan kita bersama bahwa dalam perkembangannya sekarang ini, pendidikan sudah tidak lagi berkembang sebagai escalator taraf hidup, tetapi hanya untuk bisa bertahan di taraf hidup/kelas sebelumnya.

Beberapa contoh community development lainnya yang cukup sukses di bidang seni misalnya saung angklung Udjo dan komunitas Hong di Bandung. Mereka berkarya tidak hanya untuk mencari keuntungan semata, tetapi ada value yang ingin mereka sampaikan melalui karyanya terutama untuk melestarikan dan mempopulerkan kebudayaan yang hampir hilang di masyarakat.

Entrepreneur itu tidak cukup dengan hanya bermodalkan bakat saja, tetapi ide dan yang terpenting adalah eksekusinya. Untuk memulai suatu usaha dapat dilakukan dengan beberapa cara: memulai usaha yang benar-benar baru (paling inovatif namun harus mampu mengedukasi dan mempromosikannya ke masyarakat) atau imitasi atau meniru usaha yang sudah ada namun hanya akan menjadi follower saja. Adapun dalam menentukan jenis udaha apa yang hendak kita tekuni sebaiknya mencari tahu dahulu kebutuhan/demand masyarakat seperti usaha ojek taksi. Kedepan Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi entrepreneur.

 

Referensi:

http://www.grameen-info.org/index.php?option=com_content&task=view&id=26&Itemid=175

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s